Kehidupan, Sebuah Drama Kosmis

Kehidupan, Sebuah Drama Kosmis ...


Ilustrasi Koneksi Semesta.  Sumber : blog aos



Kehidupan ini menurut yang diyakini Si Calon Petani ini adalah sebuah drama kosmis.
Keterlibatan dalam cerita drama kehidupan adalah suatu pilihan, di dalamnya ada peran - peran.
Suka tidak suka, mau tidak mau, meski menolak terlibat, kita tetap akan terpapar,
Sebab kehidupan ini adalah koneksi.


Kehidupan menurutnya merupakan kumpulan misteri,
Ibarat mengumpulkan kepingan puzle, perlu upaya ... Berhasil atau tidak itu soal pencapaian, soal nanti ...
Padahal hidup yang hakiki adalah  'saat ini' dan 'di sini', Kesempatan bagi yang ingin tetap 'aktual' dan 'kontekstual' lewat yang namanya 'proses'.  Selebihnya adalah kenangan, atau impian.


Semoga saja kehidupannya adalah saat-saat bercinta dengan keluarga, dengan sesama, dan dengan semesta, demikian harapannya ...

Di sela waktu, kopi dan kretek adalah sahabat yang menyenangkan buatnya, dinikmati sambil menjalani drama kosmis ini ...



Thomas Pras

Artikel Terkait :  REVOLUSI SUNYI

Read more ...

Tentangku

                        Ilustrasi Aku adalah Cinta, Cinta adalah Tindakan.  Sumber : Gudangnya Cerita


Tentangku, Tentang Aku, Tentang Cinta ...




Suatu ketika ...
Di saat aku bertanya-tanya tentang diriku,
Aku berjumpa dengan seorang Patani,

Kemudian ia mengatakan,
Tentangku seharusnya adalah tentang hidup si aku.
Menurut Petani itu,
Hidup merupakan satu kesatuan bernama Cinta.

Maka,
Aku yang Hidup haruslah Jujur, agar kemudian bisa Terbuka.
Terbuka akan membawa pada level selanjutnya, yaitu Peka.
Peka akan menghantar pada tingkatan berikutnya, yakni Peduli.
Dan dengan Peduli, akan mau dan mampu melibatkan diri untuk mewujudkan Cinta.
Cinta pada diri sendiri, pada segenapa ciptaan, dan pada semesta.


Dan cinta bukanlah teori, tapi tindakan,
Dan cinta adalah perbuatan, maka haruslah bisa dirasakan.
Cinta akan menginspirasi,
Memberi semangat pada jiwa-jiwa yang terpapar untuk menularkannya ...

Demikian pelajaran hidup yang kudapat dari seorang Sahabat, Petani Tua.




Thomas Pras

Artikel Terkait : Kutipan dan Renungan Hidup


Read more ...

Kutipan dan Renungan Hidup

Ilustrasi: Berfikir dan Merenung.  Sumber : Conceptual Reflections 



Kutipan dan Renungan Hidup



Bahkan,
Ketika Agama tak lagi menjadi media yang nyaman untuk bertemu Tuhan,
Ia tetap mencari jalan untuk menyapa hambaNya ...

Hidup ini terlalu mubazir jika kita tak mampu mencecap hakikatNya
Dan Semesta Kehidupan ini selalu penuh Inspirasi dan Hikmah,
Tinggal kita memetiknya, mengutip salah satunya, dan meluangkan waktu sejenak untuk sebuah perenungan, untuk berefleksi ria ...




Thomas Pras, 28 Maret 2014.

Artikel Terkait : Flasback : Ketika Agama Tak Lagi Hangat


Read more ...

Puisi Bumi

Ilustrasi Puisi Bumi.  Sumber : carapedia


Puisi Bumi

Untuk hal-hal di muka bumi yang tak bisa kumengerti sepenuhnya,

Untuk hal-hal yang tak terkatakan,

Untuk yang hanya bisa diungkap lewat Puisi ...



Thomas Pras

Artikel terkait : Tentang aku
Read more ...

Home, Titik Pijakan Awal

 
Ilustrasi Home, Starting Point, sumber : mercedid



Home, Titik Pijakan Awal (Starting point)
Home,
di sini adalah Rumah,
Merupakan Tempat yang 'nyaman' yang mendorong lahirnya Pijakan Awal, titik tolak siklus, spiral pertumbuhan, perpaduan evolusi dan revolusi hidup, yang membuat segala sesuatunya nantinya akan berbeda.

Tulisan Calon Petani ini merupakan Tulisan tentang Hidup, Kehidupan dan Pembelajaran, khususnya seputar ranah yang dicita-citakannya, yakni seputar Pertanian, juga wilayah kepeduliannya, yakni seputar Perburuhan, dan Sesama Ciptaan yang Teralienasi.

Maka Blog ini sengaja menggunakan desain sebagai Blog Bertumbuh, sebagai pengingat bahwa “idealnya hidup itu selalu bertumbuh”, salah satu cara agar saya terpaksa terus belajar, dengan jalan belajar mengembangkan blog ini.
Hari ini mungkin blog ini baru berupa desain yang memiliki page kosong, tapi setidaknya dari page-page kosong itu saya sudah menetapkan peta perjalanan.  Tapi tetap terbuka untuk dilakukan pengembangan.

 Secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada Bung Ricky Pratama, yang membagi secara gratis desain blog editable melalui blognya.  Menantang saya untuk belajar tetang bloging.

Semoga sahabat sekalian menikmati blog ini, dan kita dapat tumbuh bersama melalui interaksi di sini. 
Demikian tulisan tentang Home, Titik Pijakan Awal.  

Salam Hangat


Thomas Pras, 28 Maret 2014.

Read more ...

Permakultur, Bukan Sekedar Pertanian Organik


Gambar Desain Bunga Permakultur, Sumber : fuereinebesserewelt


PERMAKULUTUR BUKAN SEKEDAR PERTANIAN ORGANIK


Mungkin ada yang bertanya,
kenapa artikel ini diberi judul
"Permakultur, Bukan Sekedar Pertanian Organik"... Apa maksudnya ?



Apa yang dimaksud dengan Permakultur ?

Dan apa perbedaan Permakultur dengan Pertanian Organik ?


Baiklah, saya coba jelaskan secara ringkas.

Permakultur, berasal dari kata "Permanen","Kultur", dan "Agrikultur".
Permanen Kultur pengertiannya adalah melestarikan, mendukung dan bekerjasama dengan budaya dan lingkungan setempat, serta tumbuh bersama dalam waktu yang bersamaan. Bekerja dengan alam dan manusia serta belajar dari mereka, bukannya melawan atau bersaing dengan mereka. Pengertian Permanen Agrikultur adalah pengelolaan pertanian, peternakan, dan perikanan dengan meningkatkan kualitas ekosistem sehingga kebutuhan manusia terpenuhi, secara berkelanjutan hingga ke masa depan.

Pengertian umum dari Pertanian Organik adalah suatu sistem yang mendorong tanaman dan tanah tetap sehat melalui cara pengelolaan tanah dan tanaman, yang disyaratkan dengan pemanfaatan bahan-bahan organik sebagai inputan, dan menghindari penggunaan inputan sintetis.

Maka dapat disimpulkan bahwa Permakultur lebih dari sekedar sistem bertani secara organik, tetapi lebih dari itu, Permakultur merupakan jalan untuk berelasi dengan sesama ciptaan dan alam semesta ini, dan menjamin keberlangsungannya hingga ke masa depan, sebagaimana sudah dituliskan diatas “Bekerja dengan alam dan manusia serta belajar dari mereka, bukannya melawan atau bersaing dengan mereka”.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini Etika yang harus dipegang teguh dalam Permakultur.


Etika Permakultur


Permakultur memiliki 3 etika yang harus dipegang teguh, yakni :

Peduli terhadap bumi

Peduli terhadap semua makhluk hidup yang ada di bumi ini, karena kita membutuhkan mereka untuk bisa tetap hidup di bumi ini. Peduli terhadap udara, tanah, laut, atmosfir, sungai, dan gunung, saat kita merusak keseimbangan alam yang ada kita akan menjadi bagian yang paling terancam. Semua tindakan kita merupakan pilihan terhadap apa yang akan kita terima. Bumi merupakan sebuah sistem yang stabil, saat sistemnya diganggu oleh manusia, ia akan berusaha mencapai keseimbangannya kembali. Perlu diingat bahwa Bumi tidak membutuhkan manusia hidup di dalam sistemnya, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa bumi ini.


Peduli terhadap masyarakat atau manusia

Di dalam permakultur semua manusia adalah sama, tidak ada masyarakat elit. Semua orang harus berbuat dan berperan untuk mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan. Permakultur adalah sebuah budaya yang permanen, yang harus dikembangkan dalam masyarakat sehingga terbentuk suatu kemandirian bersama.

Berbagi dalam Keberlanjutan (sustainability)

Setiap orang harus berbagi dengan semua makhluk hidup yang ada dan juga terhadap generasi mendatang. Selain berbuat untuk diri sendiri juga harus membagi pengetahuan yang bisa mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan. Dengan berbagi akan ada keadilan sosial bagi seluruh manusia, sehingga bisa dihilangkan kata-kata miskin di dunia ini.

Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai Permakultur, Bukan Sekedar Pertanian Organik.


Artikel Selanjutnya : Prinsip-Prinsip Permakultur


Salam Hangat


Thomas Pras, 28 Maret 2014.

Bahan Bacaan :
1. Apa itu Permakultur, http://renoseprama.blogspot.com/2011/02/apa-itu-permakultur.html
2. Apa itu Pertanian Organik, http://stepanoeranio.blogspot.com/2013/03/pengertian-umum-pertanian-organik.html
3. Buku Permakultur, terbitan Yayasan Idep Bali.

Read more ...

Resiko Fleksibilitas Pasar Kerja

                                             Ilustrasi Demo Buruh May Day.  Sumber : di sini


Resiko Fleksibilitas Pasar Kerja


Sistem pasar kerja di Indonesia dewasa ini ikut mengalami perubahan seiring bergesernya orientasi ekonomi global. Bersamaan menguatnya liberalisasi perekonomian dunia, pasar kerja ikut terdorong ke bentuk yang lebih fleksibel. Fleksibilisasi Pasar Kerja, secara sederhana dapat diartikan secara sengaja menyerahkan hubungan pekerja/buruh dengan pengguna tenaga kerja (employer) pada mekanisme pasar.

Oleh para penganutnya, sistem pasar kerja yang fleksibel - termasuk didalamnya sistem produksi yang fleksibel, dipercaya dapat memperluas pemerataan kesempatan kerja, memicu produktifitas, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memicu pertumbuhan ekonomi.
Mengenai hal ini, saya justru berfikir sebaliknya. Hubungan Industrial tidak akan pernah menjadi adil, ketika melulu diserahkan pada mekanisme pasar kerja yang menganut paham neo-liberal ini. Mekanisme pasar ibarat hukum rimba, siapa yang kuat maka dia yang akan menang, yang lemah hanya akan menjadi mangsa dan pelengkap penderita sistim ini.

Memperlebar Jurang Ketimpangan
Sistem ini setidaknya mengakibatkan 3 hal berikut : pertama, pasar kerja yang fleksibel melemahkan posisi pekerja/buruh, ini disebabkan oleh minimnya ketrampilan pekerja/buruh, serta jumlah yang melebihi kebutuhan pasar kerja. Sebagai data, Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah angkatan kerja pada Agustus 2007 mencapai 109,94 jiwa. Yang perlu diperhatikan, sekitar 58 juta diantaranya berpendidikan hanya SD atau belum SD (tempointeraktif,2005). Kita semua tahu, ketika barang atau jasa melebihi permintaan pasar, harganya akan turun.

Kedua, sistem pasar kerja yang fleksibel mensyaratkan persoalan hubungan kerja diserahkan pada mekanisme pasar, artinya campur tangan negara perlu dipangkas supaya sistem pasar kerja menjadi tidak kaku, sebab bisa menghambat produktifitas di level produksi. Konsep keamanan lapangan kerja (employment security) dibiarkan melibas keamanan kerja (job security). Para pengguna tenaga kerja mendapat kemudahan dalam merekrut dan memberhentikan pekerja sesuai dengan kebutuhannya. Pekerja tidak memperoleh perlindungan kepastian dari negara. Ketiga, sistem pasar kerja yang fleksibel melemahkan posisi serikat pekerja. Ketentuan UU 21/2000 hanya merekomendasi buruh tetap yang bisa menjadi anggota serikat pekerja/buruh, akibatnya serikat pekerja kesulitan mengorganisasir pekerja dengan status kontrak.

Dengan melemahnya posisi serikat pekerja, kekuatan kolektif buruh ikut hilang, dan posisi pekerja makin terjepit. Saya ingin mengatakan sistem pasar kerja yang fleksibel hanya akan menguatkan yang kuat dan melemahkan yang lemah, memperlebar jurang ketimpangan.

Fakta Negatif Dampak Pasar Kerja yang Fleksibel
Demi efisiensi produksi dan memaksimalkan keuntungan pemodal, jam kerja dan besaran upah disesuaikan dengan fluktuasi permintaan pasar akan barang atau jasa yang dihasilkan. Model hubungan kerja didasarkan pada sistem kontrak dan outsourcing.

Hasil dari pendataan Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) wilayah timur tahun ini, dari 48 pabrik dengan jumlah pekerja 34. 234 orang, 11.465 orang berstatus tetap, 68.5 % sisanya berstatus kontrak: 16.568 orang berstatus kontrak dan 6.201 orang berstatus harian lepas. Sementara pemetaan di wilayah barat (Lampung masuk wilayah ini), terdapat 91 perusahaan, 57 perusahaan atau 62, 6 % sudah mempraktekan sistem kerja kontrak.

Akibat dari pergeseran status dari tetap ke kontrak maka hak-hak pekerja/buruh ikut mengalami degradasi. Sebagai perpandingan, jika pekerja/buruh tetap berhak memperoleh upah pokok (UP) berupa minimal UMK dengan Tunjangan Masa Kerja, maka pekerja kontrak hanya memperoleh UMK. Pekerja kontrak juga tidak memperoleh premi kehadiran, Jamsostek (jaminan kecelakaan kerja, kematian, hari tua, kesehatan), uang makan, uang transport, tunjangan hari raya, kebebasan berserikat, serta tunjangan jabatan untuk posisi tertentu, upah lembur, dan pesangon ketika terjadi PHK.

Berkaitan dengan hak normatif, berdasar investigasi serikat buruh - serikat buruh & FPBN wilayah barat, pekerja kontrak juga tidak memperoleh hak cuti tahunan, pelatihan kerja, tunjangan kesehatan, tunjangan perumahan, rekreasi. Pekerja perempuan dengan status tetap mempunyai hak cuti haid serta cuti melahirkan, sementara tidak demikian dengan pekerja kontrak. Umumnya bila hamil atau menikah, mereka langsung diberhentikan atau kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Pada proses rekrutmen, pekerja kontrak direkrut melalui agen/yayasan penyalur tenaga kerja, tentunya ada nilai yang harus dibayar.

Meningkatnya ketidakpastian pendapatan, sementara harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung, menuntut saudara-saudara kita para pekerja/buruh lebih ‘kreatif’ untuk sekedar bertahan hidup. Untuk menekan pengeluaran pangan; caranya dengan mengurangi frekuensi makan, dari 3 menjadi 2 kali sehari. Kualitas menu juga dikurangi; makan berupa nasi, sayur, lauk tahu/tempe, sarapan dan makan malamnya roti atau mie instant. Trasnportasi; mengkombinasikan ongkos angkutan termurah dengan jalan kaki, atau beralih menggunakan sepeda. Tempat tinggal; dengan pindah ke kontrakan yang harganya lebih murah, tentunya dengan kualitasnya lebih buruk: MCK antri, dinding triplek. Ada juga yang terpaksa numpang dikerabat atau keluarga. Kesehatan; kalau sakit berobat ke klinik pabrik, atau jika tak ada klinik beli obat warung, atau ke puskesmas. Ke dokter kalau sakit sudah parah. Untuk menekan pengeluaran asupan & pendidikan; anak disekolahkan dengan dititipkan ke orang tua di kampong. Beralih ke susu yang lebih murah dengan kualitas rendah, terkadang diganti dengan teh manis.

Dampak negatif bahkan juga dirasakan oleh para pencari kerja serta kegiatan ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan para buruh, misalnya para pengusaha warung makan.

Mempertaruhkan Masa Depan Bangsa Kita
Jika kondisi ini didiamkan, maka makin lama kondisi mayoritas pekerja/buruh kita akan semakin miskin. Terkait momen peringatan Hari Pendidikan, salah satu akibat dari kemiskinan, para pekerja tidak mampu mengakses pendidikan yang layak bagi anaknya. Rendahnya pendidikan (dalam arti luas) menyebabkan kebodohan, sehingga produktifitas generasi berikutnya semakin rendah. Dengan rendahnya produktifitas, maka upah juga makin kecil, artinya hidup makin miskin. Pekerja dan keluarganya akan tenggelam dalam lingkaran setan: miskin - tidak produktif - dan makin miskin. Belum lagi masalah kesehatan akibat asupan gizi rendah.

Perlu diingat, jumlah pekerja, termasuk buruh tani sekitar 120 juta jiwa, hampir separuh jumlah penduduk Indonesia. Bisa dibayangkan jika angka kebodohan, ketidaksehatan, ketidakproduktifan dan kemiskinan tersebut terus meningkat, sama artinya bangsa kita sedang menggelincir bebas menuju keruntuhan. Jika tidak mau bangsa ini hancur, sudah saatnya negara berfikir serius mengantisipasi hal ini.

Demikian Catatan saya mengenai Resiko Fleksibilitas Pasar Kerja, semoga berguna.



Thomas Pras, 2 Mei 2008


Related Article : Sopir Angkot, Pahlawan Pendidikan yang Terlupakan
Read more ...

Jalan Sunyi Petani

                                                   Ilustrasi CALON PETANI.  Sumber : di sini

Mengapa diberi judul Jalan Sunyi Petani ?
Mari kita rubah pertanyaan tersebut dengan "Siapa yang sungguh-sungguh peduli dengan nasib petani" ?


Adakah selain Petani itu sendiri ? ... Retoris banget ya ... ha ha :D

Dari realita yang saya amati, akhirnya saya mengambil kesimpulan begini:
Kalau memang kita memilih menjadi Petani sebagai pilihan hidup, maka kita harus siap mental.  Seorang calon Petani harus punya mental teguh dan berani berjalan sendiri menyusuri Jalan Sunyi.  Maka jika merasa tidak mempunyai prasarat itu, sebaiknya batalkan saja niat menjadi Petani.

  
Cerita tentang Indonesia sebagai negara agraris dengan letak geografis yang strategis, iklim yang mendukung, kaya akan sumber daya alam pendukung pertanian; seperti tanah yang subur, air melimpah, kekayaan hayati yang beraneka ragam, dan memiliki sumber daya manusia yang cerdas, saat ini perlu kita pertanyakan kembali.  

Gambaran Umum
Fakta yang kita alami saat ini adalah iklim yang sukar diprediksi, kekayaan hayati semakin berkurang, sumber daya alam pendukung pertanian yang makin menipis, suplai pangan yang tergantung dari negara lain, dan harus diakui generasi Indonesia sekarang masih kalah cerdas dan bermartabat dibanding dengan generasi Tan Malaka, Syahrir, Soekarno atau Hatta. Petani, sebagai profesi mayoritas selain buruh atau pekerja, termasuk golongan tidak mampu mengakses pendidikan tinggi. Dalam bahasa sederhana, bangsa ini telah bangkrut. Sumber daya alamnya habis, hutangnya banyak, tapi mayoritas masyarakatnya miskin dan bodoh. Akhirnya bangsa ini terbelit lingkaran setan: miskin – bodoh – tidak produktif, kemudian tambah miskin – bodoh dan seterusnya.  

Mencari Solusi Alternatif yang Logis & Realistis
Ketika kita mencoba merunut mengapa, bagaimana itu terjadi dan siapa yang bertanggungjawab, maka jawaban yang paling sering muncul adalah karena pemerintah salah mengelola bangsa ini. Pembangunan lebih ditekankan pada pertumbuhan ekonomi, namun manusianya (masyarakat) justru dijadikan obyek pembangunan. Pemerintah sebagai pemegang otoritas pengelolaan negeri ini, belum mampu – kalau tidak mau dikatakan belum mau untuk berpihak pada rakyat jelata, mungkin menganut sistem pro kapitalis.

Menyalahkan dan saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Langkah yang lebih penting setelah menemukan akar masalahnya adalah bagaimana mencari solusi alternatif yang tepat.  Jika pemerintah dan para penentu kebijakan publik negeri ini belum bisa diharapkan, maka solusi alternatif yang logis dan realistis adalah Petani harus mandiri !

Perjuangan menuju kemandirian Petani.
Kelemahan yang dimiliki generasi petani kita saat ini setidaknya ada tiga. Pertama, mengenai Teknis Pertanian. Pada tingkatan On-farm, generasi petani kita saat ini sudah kehilangan pengetahuan dan ketrampilan dalam menyediakan sarana produksi usaha tani secara mandiri. Pupuk, insektisida, herbisida, bahkan benihnya semuanya diperoleh dengan membeli alias tergantung pada pabrik yang notabene sebagian besar sahamnya milik bangsa asing. Padahal kita masih memiliki aneka ternak yang dapat mendukung usaha pertanian, seperti kerbau, sapi, kambing, unggas, bahkan di beberapa daerah ada hewan liar seperti kelelawar, yang kotorannya dapat diolah menjadi pupuk organik, yang ramah lingkungan. 

Memang belakangan ini muncul berbagai macam merek pupuk organik, yang relatif baik untuk lingkungan jika dibanding dengan pupuk sintetis buatan pabrik, namun jika petani tetap harus membeli, petani tetap tidak mandiri. Belum lagi maraknya pemalsuan pupuk, atau sertifikasi produk organik yang hampir belum ada pengawasannya. 

Jalan yang harus ditempuh oleh petani -- dan ini langkah yang tidak bisa dikompromi, adalah mereka harus mampu menyediakan secara mandiri seluruh sarana produksi, mulai dari penyediaan benih lokal, serta penyediaan pupuk, insektisida, herbisida organik yang berasal dari sumber daya alam setempat. 

Petani juga harus kembali menggunakan alat-alat pertanian seperti sabit, cangkul, mata bajak yang ditarik ternak sapi atau kerbau dalam mengolah tanah, daripada menggunakan traktor yang berat yang mengakibatkan tanah menjadi padat atau pejal. Ternak selain tenaga dan kotorannya dimanfaatkan, juga merupakan sumber protein bagi keluarga. Selain itu ternak bagi petani merupakan merupakan jenis tabungan atau aset yang mudah dicairkan. 

Kedua, mengenai Manajemen Usaha Tani. Generasi petani sekarang tidak memiliki kemampuan mengelola usaha pertaniannya. Mereka hampir tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam membuat perencanaan, dari tahap produksi hingga pemasaran. Penentuan jenis komoditi yang dibudidayakan tidak didasarkan dari survey pasar, artinya belum memiliki orientasi memproduksi komoditi sesuai yang diinginkan pasar atau konsumen. Ditambah pengetahuan dan ketrampilan dalam membudidayakan komoditi juga rendah. Akibatnya seringkali setelah panen, komoditi mereka tidak diterima pasar, bisa karena mutunya rendah, atau kalau kebetulan mutunya baik tapi over produksi sehingga harganya terjun bebas. Padahal dalam ilmu manajemen, perencanaan (planning) wajib hukumnya! 

Petani belum bisa memenuhi tuntutan pasar: 4 K, kualitas, kuantitas, Kontinuitas, dan Kepercayaan. Maka mulai sekarang, petani harus berani untuk belajar ! Berikutnya, generasi petani kita saat ini tidak memiliki otoritas dalam menentukan harga komoditas yang mereka hasilkan. Ketika panen mereka justru bertanya kepada pedagang, berapa harga beras saya ? begitu juga dengan komoditi singkong, jagung, kedelai, kakao dan seterusnya.

Ketiga, adalah mengenai manajemen Organisasi. Kembali menurut ilmu manajemen, setelah perencanaan dilakukan, perlu dimantapkan dengan melakukan pengorganisasian (organizing). Petani harus berani jujur mengakui keterbatasannya sebagai individu, maka harus mau bersatu – dengan jalan berkelompok. Didalam kelompok inilah dilakukan perencanaan produksi, baik mengenai jenis komoditi maupun luasan lahan (nantinya berkaitan dengan volume yang dihasilkan) hingga melakukan pemasaran secara bersama -secara kelompok bahkan asosiasi. 

Dengan pemasaran bersama, maka posisi tawar petani meningkat, dan menjadi sejajar dengan pedangang! Petani perlu uang - pedagang perlu barang, suatu simbiosis mutualisme, dimana dapat disepakati harga komoditi yang adil sesuai dengan kualitas komoditi. Sedangkan pada tingkatan off - farm, pengetahuan dan ketrampilan generasi petani kita dalam mengelola komoditi sejak keluar dari lahan juga masih rendah. Kasus yang sering terjadi, dengan budidaya yang tanpa perencanaan produksi, maka harga komoditi terjun bebas. Namun dengan berkelompok, petani selain melakukan perencanaan produksi dan pemasaran bersama, bisa juga mengatasi harga yang anjlog tadi. Pertama, melakukan penanganan paska-panen dengan benar untuk menjaga kualitas komoditi. Kualitas yang baik akan mendongkrak harga komoditi. 

Kedua, pada saat harga rendah, petani melakukan penyimpanan komoditi kelompok dengan benar secara bersama, sehingga kualitasnya tetap terjaga, baru setelah harganya tinggi barang dilepas ke pasaran. 

Ketiga, petani dapat mengupayakan pengolahan komoditi menjadi produk, untuk meningkatkan nilai atau harga komoditi. Misalnya mengolah singkong menjadi gaplek atau tepung atau menjadi makanan, bahkan menjadi bio-diesel. Jagung dapat diolah menjadi makanan ternak, maupun makanan manusia. Jahe, kunir, temulawak dan jenis empon-empon lain dapat diolah menjadi produk minuman instan yang menyehatkan. Cabai, rempah, atau sayur-mayur dapat diolah menjadi bumbu siap saji yang memiliki kandungan gizi lengkap untuk keluarga. 

Keempat, generasi petani sekarang tidak lagi mempunyai lahan yang luas untuk melakukan usahanya. Maka selain harus kreatif & inovatif, petani harus mampu melakukan lobby atau negosiasi dengan pemerintah dan stakeholder lain, seperti asosiasi profesi lain, atau ormas lain untuk memperjuangkan landreform di wilayahnya. Kelima, petani tidak memiliki kebanggaan akan profesinya, serta komoditi yang dihasilkannya, mulai secara fanatik menggunakan produknya, dan menolak produk sejenis yang berasal dari luar wilayahnya. 

Petani Bermartabat & Sejahtera
Seandainya petani mau bersatu, maka akan menjadi satu kekuatan dasyat yang sulit dicari tandingannya. Perlu diingat, solusi alternatif yang ditawarkan di atas, hanya bisa berhasil jika petani berjuang secara terorganisisr dan sistematis. Perjuangan membutuhkan pengorbanan di muka, dan buah manisnya baru bisa dicecap belakangan. Maka konsisten pada tujuan perjuangan adalah keharusan. Nyalakanlah terus harapan di hati untuk menjadi manusia yang mandiri, lebih bermartabat dan sejahtera.
Nasibmu ada ditanganmu, bersatu & bergeraklah !

Artikel selanjutnya : Permakultur Bukan Sekedar Pertanian Organik

Demikian catatan saya tentang Jalan Sunyi Petani, semoga bermanfaat.


Thomas Pras, 15 Maret 2008.

*) Artikel ini pernah dimuat di Harian Lampung Post, dan diposting di Kompasiana.

Read more ...